Wanita Dalam Prespektif Agama

Oleh: KH. Yasyif Maemun Syaerozie

Pada dasarnya kedudukan wanita dan laki-laki menurut Agama Islam adalah sama sebagai makhluk Allah Swt. Perbedaan nyata keduanya adalah dari segi gender dan nilai ketakwaan. 

            Secara kodrat, kaum wanita merupakan pasangan bagi kaum laki-laki, makanya kita memahami dalam ilmu fikih bahwa pernikahan adalah sebuah akad yang menyatukan dua jenis manusia wanita dan laki-laki menjadi satu ikatan rumah tangga, saling berpasangan dan bersinergi dalam menjalani kehidupan.

            Jika kita menengok sejarah, semua Nabi dan Rasul pun memiliki istri, seperti Siti Hawa istri dari Nabi Adam, siti Zulaikha istri Nabi Yusuf, kecuali Nabi Isa yang hidup sendiri tanpa seorang istri. Keberhasilan dakwah para Nabi dan Rasul tidak lepas dari peran para istrinya, kecuali Nabi Nuh yang istrinya kurang kooperatif dalam mendukung misi dakwah suaminya.

            Dalam sebuah rumah tangga, relasi istri dan suami sangat penting dijaga keharmonisannya, bahkan seorang suami (laki-laki) tidak akan bisa berbuat kebaikan yang lebih kecuali ada motivasi dan dorongan dari istrinya (wanita) yang baik, ketika istrinya tidak baik, maka akan berdampak pada kualitas dan kuantitas amalan baik suaminya.

Seperti kisah Nabi Nuh, dimana secara jumlah umatnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah umat para Nabi lainnya.  Hal ini bisa jadi karena faktor istrinya yang tidak support dan tidak kooperatif terhadap misi dakwah Nabi Nuh sebagai suaminya.   Bahkan berakibat pada sikap anaknya sendiri yang kurang mempercayai misi dakwah Nabi Nuh.

            Di sisi lain, kita mendengar ungkapan dalam bahasa Arab yang isinya memposisikan wanita sebagai unsur penting dalam eksisnya sebuah negara. Ungkapan itu adalah ; “Al Mar’atu Imadul Bilad” (Wanita adalah pilarnya negara).

            Pilar adalah sesuatu yang sangat fundamental, ketika sebuah rumah atau bangunan tidak ada pilarnya, maka ia tidak akan mempunyai penutup / atap,  begitu juga sebuah negara ketika penduduk wanitanya lemah tidak kuat sumber daya manusia dan akhlaknya, maka negara tersebut tidak akan

 bisa eksis Untuk itulah agama Islam sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum wanita, dalam masyarakat jahiliyah (pra-Islam), kaum wanita tidak ada nilainya, mereka dikubur hidup-hidup saat lahir, hingga kemudian Nabi Muhammad Saw datang menyampaikan dakwah Islamiyah, maka terangkatlah harkat dan martabat kaum wanita.   

            Rasulullah Saw pun menegaskan bahwa keutamaan seorang ibu (wanita) berada di atas ayah (laki-laki), sebagaimana dalam sabdanya ; ibu kalianlah yang harus dihormati, baru setelah itu ayah kalian. Bahkan dalam riwayat yang lain, Rasulullah Saw menegaskan bahwa surga berada di bawah

telapak  kaki ibu.

Namun yang perlu diperhatikan oleh kaum wanita adalah menjaga kualitas keilmuan dan akhlakul karimah, karena dengan kedua hal ini derajat manusia akan terangkat, agar jangan sampai kaum wanita ternodai oleh ungkapan “wanita racun dunia”, yaitu kaum wanita yang akhlaknya tidak baik, prilakunya tidak mencerminkan kaum berpendidikan

*Penulis Adalah Pengasuh

Pondok Pesantren Putra Putri

Assalafie Babakan Ciwaringin, Anggota

Dewan Syuriah PCNU Kab. Cirebon

Post Author: Nusa