Ternak Ayam Versi Santri Gubug Satu Aliyah

Sudah hampir beberapa bulan terakhir, santri putra Assalafie yang berdomisili di gubug sekitar area gedung MTs & MA NU Assalafie, selain mengaji mereka juga mengembangkan peternakan ayam sebagai salah satu pembelajar wirausaha. Pertama modal sendiri santri mengembang biakan ayam tersebut. Santri juga datang dari kalangan mahasiswa  yang kuliah, yang mondok kebanyakan dari Cirebon dan Indramayu.

(Ilustrasi, Sumber: www.pixabay.com)

Banyak cara untuk menjadi peternak sukses, salah satu komoditas ternak yang sedang nge-trend saat ini yaitu ternak ayam kampung. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini banyak sekali ulasan di media cetak maupun elektronik yang mengulas mengenai kesuksesan para peternak ayam kampung di tanah air, rata-rata mereka adalah sosok yang memiliki komitmen, mental serta jiwa wirausaha yang kuat. Kegiatan selain pengajian rutin, di assalafie diajarkan bagaimana cara beternak dengan baik dan benar. .

Seorang santri, pagi terlihat mengaduk pakan di sebuah ember berwarna hijau di sekitar kandang ayam. Dengan suara tabuhan dan siulan, beberapa ayam kampung menghampirinya seperti sudah tahu akan datangnya jam makan.

Usaha ternak ayam kampung saat ini tampaknya memang menjadi salah satu komoditas usaha yang cukup baik, mengingat bahwa indonesia memiliki potensi tinggi di bidang peternakan dan pertanian. Dikalang santripun tampaknya dipelajari mengenai hali berternak ayam. Banyak peternak tersohor di negeri ini yang mampu membawa kesuksesan bagi daerahnya, dengan adanya usaha ternak ayam kampung tidak sedikit yang menjadi pencipta lapangan kerja baru serta menjadi mandiri dalam berkarya. Kunci utama dalam ternak ayam kampung yaitu komitmen, kerja keras dan konsisten. Inilah sebuah modal awal dari para santri untuk bisa mempelajarinya meskipun, dalam segi fasilitas dalam sebuah pondok kurang memadai tidak menjadikan para santri untuk mengurangi kesemangatan dalam mempelajarinya, selain mengaji santi yang berdomisili di gubug sambil bertirakat mereka belajar dari hal yang terkecil seperti beternak ayam.

Tidak banyak yang mampu untuk melakukan hal tersebut. Karena sekarang banyak peternak pemula yang mudah tergiur dengan keuntungan semata dan hanya melihatnya dari sisi finansial saja, padahal sejatinya ternak ayam kampung tidak hanya mengutamakan sisi finansial saja, ternak ayam kampung dalam istilah jawanya itu “luwih jowoni”. Adanya ikatan batin yang cukup kuat dalam memelihara ayam kampung karena biasanya dipelihara dalam skala kecil hubungan yang baik antar stakeholder pun juga terjadi demikian, penjual pakan dan pedagangnya pun juga pasti dianggap sebagai keluarganya sendiri yang secara kontinyu berbagi suka duka disetiap pemeliharan hingga masa panen berikutnya tiba. Usaha ternak ayam kampung bisa diusahakan dalam skala kecil ataupun besar tergantung modal yang tersedia. Namun kadang kita bingung untuk memulai usaha ini karena sering dihantui berbagai macam rintangan, kendala dan ketakutan lainnya. Rintangan dan kendala yang biasanya muncul sebelum kita memulai usaha ternak ayam kampung antara lain bagaimana agar ayam kampung bisa tetap hidup? Bagaimana jika ayam kampung sakit? Dari mana mendapatkan modal? Terus bagaimana kalau rugi? Bagaimana kalau ini, kalau itu dan kalau-kalau yang lainnya.   Apabila beternak ayam dipelajari oleh santri sejjak skarang, sehingga akan muncul banyak cara dan teknik beternak yang sebenarnya. Diantara modal utama dilakoni oleh santri diantaranya:

 Bangun Keyakinan

Modal utama yaitu membangun keyakinan untuk memulai usaha ternak ayam kampung. Memang bukan hal yang mudah apalagi untuk orang yang belum pernah beternak dan tidak mempunyai background peternakan. belakangan ini banyak kalangan yang banting stir untuk terjun di bisnis ini yang notabene bukan berlatar belakang seorang peternak. kebanyakan hanya bisa menangkap peluang tapi belum tahu cara beternak benar. Para usahawan yang bermodal tebal, orang yang mau pensiun ramai-ramai merintis usaha ini. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan (modal, mental dan sebagainya) dan siap dengan resiko dan kendala yang akan di alami. Sehingga resep jitu untuk membangun kenyakinan adalah dengan memaksimalkan kekuatan dalam diri kita dan siap dengan resiko yang akan di alami.

  Lewati Rintangan

Semua bentuk usaha manusia di dalamnya dibutuhkan pengorbanan (ikhtiar), setelah itu kita hanya bisa pasrah bertawakkal kepada yang Maha Memberi Rezeki. Tidak perlu pergi ke dukun, orang pintar, paratidaknormal, dan sebagainnya agar usaha kita membawa keberhasilan karena hal itu akan membuat kita menjadi musryik bagi orang Islam. Akhir dari bentuk usaha yang akan kita jalankan adalah sukses (untung) dan gagal (rugi) tergantung bagaimana manajemen kita dalam mengendalikan usaha.

Begitu juga kalau kita akan memulai usaha ternak yang pastinya kita harus sedikit memaahami dan menjadi suatu keharusan untuk belajar akan seluk beluk dan liku-liku cara beternak. Yang perlu dicatat adalah kita harus membedakan usaha barang mati dengan barang hidup. Dengan berbekal sedikit pengetahuan dari membaca, mengikuti pelatihan atau training, berkunjung atau magang langsung ke peternakan kami rasa sudah cukup sebagai modal pertama untuk memulai usaha. Modal keuangan kami rasa cukup mudah, tapi yang paling sulit adalah modal mental termasuk didalamnya adalah sikap siap menerima resiko usaha. Berbeda jika kita sudah menjalani satu siklus usaha, di sana kita akan banyak mendapatkan pengalaman dan kita bisa melakukan evaluasi usaha kita. Kalau rugi kenapa dan kalau untung apa tidak bisa ditingkatkan pada siklus kedua atau berikutnya. Singkirkan rintangan dan tanamkan dalam diri kita sikap percaya diri untuk memulai usaha kita dengan modal seadanya, jangan terlalu muluk-muluk dan angan-angan yang belum jelas akhirnya.

(Sumber Majalah Salafuna Edisi 46 Tahun 2017)

 

 

Post Author: Nusa

Leave a Reply

Your email address will not be published.