Penyakit Negara Dan Solusinya

Oleh: KH. Yasief Maemun Syaerozie*

“Kelestarian umat tergantung pada akhlaknya,
apabila akhlaknya rusak maka runtuhlah kehidupan umat”.

 Banyak hal yang menjadikan negara menjadi terpuruk dalam bidang ekonomi. Keterpurkan ekonomi mengakibatkan instabilitas kehidupan baik sosial, politik, dan budaya. dan yang sangat menghawatirkan adalah apabila kondisi ini dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan untuk melebarkan sayap agama tanpa dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi yang artinya kerap sekali kefaqiran menjadikan orang berbuat kekafiran.

Sehingga jelas tugas bagi setiap warga negara untuk sama-sama menjaga negara ini agar tidak terjadi kehancuran dibidang ekonomi yang notabene sebagai akar kehancuran segala sektor kehidupan manusia.
Kehancuran ekonomi tidak lah sekonyong konyong datang tanpa sebab tetapi itu semua karena prilaku masyarakt yang tidak lagi mengikuti norma-norma agama seperti janji Allah dalam surat Al Baqarah Ayat 96 yang artinya: “jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa pastilah kami akan melimpahkan kepada merekah berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat ayat kami) itu maka kami siksa disebabkan perbuatannya”.

Seperti perilaku beberapa konglomerat yang cenderung untuk melakukan aktivitas ekonomi yang cepat menguntungkan kekeyaan, tanpa memeperhitungkan kaidah-kaidah atau norma-norma agama. semisal lebih cenderung mempraktikkan renten dibanding dari penanaman modal dengan cara mudlorobah. Praktik renten bagi mereka lebih memiliki prospek sementara dalam mudlarabah dianggap memiliki kelemahan dalam hal sukar mengontrol dan tidak ada kejujuran dari pihak penglola. padahal jika ia bekerja sama dengan pihak lain seperti pihak kepolisian atau pengacara dan lainnya yang bisa mendukung lancarnya perjalanan transaksi maka mudlorobah pasti akan lebih meningkatkan ekonomi baik individual maupun masyarakat umum. Allah Swt berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 276 yang artinya: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”.Sebagian kaum konglomerat lain lebih memilih bisnis haram seperti menjadi bandar judi dan pemasok obat terlarang.

Dan yang sangat lebih membahayakan adalah krisis moralitas penguasa dengan meraup kekayaan melalui kekuasaan. Oleh karenanya menjadi hal yang urgen bagai pemerintah penguasa untuk bernawatu menjadi pelayan masyarakat, bukan memanfaatkan kekuasaan sebagai alat produksi kekayaan.
Tidak heran jika krisis moral penguasa menjadikan pratek korupsi, kolusi dan nepotisme tumbuh subur di negeri ini.

Walhasil jikalau masyarakat dari lapisan atas tidak lagi bisa jadi tauladan bagi rakyat kecil maka yang terjadi kerusakan dimana mana. Lalu apakah hal ini kita biarkan merajalela, tidak ada kesudahan dan tidak ada penyelesaian. Padahal Allah telah berfirman “Tidak ada yang berprilakuputus asa kecuali orang kafir”.

 

Solusi Pemberantasan Korupsi

Umat Islam di Indonesia adalah mayoritas, maka umat Islam lah yang harus pertama bangkit dan berjuang. Hal ini senada dengan firman Allah surat Ali Imran ayat 110 yang artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma,rup dan mencegah dari yang munkar”, namun sayang dari segi kualitas umat Islam di Indonesia sangat memprihatinkan implikasinya masih banyak yang setengah-setengah menjalankan syariat Islam bahkan alergi terhadap hukum Islam.

Dalam hal korupsi banyak pakar yang sudah berbicara tentang hukuman yang pantas bagi koruptor baik dari kalangan muslim atapun non muslim. diantaranya ialah menghukum mati, memotong tangan, tidak boleh dishalati ketika dia mati. Tetapi kalau kita kaji maka asumsi demikian tampaknya kontradiktif, karena di satu sisi Islam melarang membunuh seseorang kecuali tiga hal yaitu murtad, membunuh dan berzina bagi orang yang telah bersuami atau beristri. memang negara tirai bambu (China) berhasil dengan menerapkan hukuman mati tetapi ingat china adalah negara yang tidak beridiologi Islam. Sedangkan dalam prespektif fikih hukum pemotongan tangan diterapkan bagi pencuri ketika pencuri mengambil barang yang disimpan dan dijaga secara baik, sementara koruptor justru mengambil uang yang ada pada kekuasaannya.

Adapun mengenai hukum koruptor tidak boleh dishalati, seandainya benar-benar terjadi maka kita telah melakukan kesalahan pada Allah sebab menshalati mayit muslim yang sebesar apapun mayit tersebut melakukan dosa selain kufur hukumnya fardu kifayah.

Ruh hukum Islam adalah tegas dan adil sehingga dalam menjatuhkan hukum harus tetap bertendensi pada keadilan seperti dalam firman Allah surat Al Maidah ayat 8 yang artinya : “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Adilah, karena adil lebih dekat kepada taqwa”.

Oleh karenanya, dengan menggali tendensi pada sebuah ayat yang diturunkan ketika Rasulullah Saw hendak membalas pembunuh pamannya Sayyidina Hamzah ; “Dan jika kamu
memberikan balasan maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang di timpahkan kepadamu”. QS An Nahl ayat 126, bisa dibuat dasar untuk menghukum koruptor sehingga yang pantas untuk menghukum koruptor adalah dipecat dengan tanpa terhormat dan mengambil kembali uang yang dihasilkan dari korupsi dan di penjara sebagai tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Dan jika tidak mau mengembalikan maka dia dan keluarganya untuk selama lamanya tidak boleh mengemban amanat apapun bentuknya. untuk memperkuat hal ini pihak kepolisian harus mencatat prilaku buruk bagi koruptor dan keluarganya.
Solusi Pemberantasan Judi dan Obat Terlarang

Ketika kejahatan dari sang penguasa dihentikan maka yang harus ditindak lanjuti adalah pembrantasan kelakuan buruk yang dilakukan sebagaian kelompok kaya yaitu penyalengara judi (bandar judi).
Korupsi adalah sutu kejahatan dimana ketika negara mengalami kemajuan maka dengan sendirimya akan mengalami penurunan, lain hal nya dengan perjudian, yang sarat dengan imbas-imbas yang ditimbulkannya diantaranya adalah menjadikan orang tidak produktif. ketika seperempat saja dari penduduk negri ini sebagai pemalas maka otomatis negeri ini terancam malapetaka, sehingga bandar judi harus secepatnya untuk diamankan dengan memenjara mereka dan membayar kerugian negara. Sebab dengan perjudian berarti peredaran uang dalam transaksi yang sah tidak maksimal. Sementara bagi pengadar obat-obatan terlarang (NARKOBA) yang paling efektif adalah dengan menghukum mati. sebab obat-obat terlarang bayak menjadikan korban- korbannya meninggal dunia.

Penutup

Sebaik apapun produk hukum dan sebaik apapun penegak hukum kalau tidak ada kesungguhan dan tidak ada persatuan dan kekompakan dalam memerangi kejahatan niscaya tidak akan menghasilkan apapun. Wallahua’lam.

*Pengasuh Pondok Pesantren Putra Putri Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon.
(Sumber Majalah Salafuna Edisi 42 / Th XII / Muharram 1437 / Oktober 2015)

Post Author: Nusa